MAKALAH
WORKSHOP PENDIDIKAN
KIMIA
“PERSEPSI SISWA TENTANG
MATERI-MATERI KIMIA YANG SULIT DALAM KURIKULUM DI BEBERAPA
SEKOLAH DI JAMBI ”

DISUSUN
OLEH :
1.
SERINA RIZKI NOVRIANA D RSA1C113027
2.
NURASIA A1C112028
3.
TRI HARYATI A1C113019
4.
IDA PUSPITA SARI TAMBUNAN A1C113028
5.
ANNISA NOFITRI RRA1C113005
6.
EKA
YUNI RRA1C113003
7.
RAHAYU
LESTARI RRA1C113015
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs.SYAMSURIZAL,M.Si
|
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, di mana atas
anugerahNya maka selesailah penulisan
makalah Workshop Pendidikan ini yang berjudul “Persepsi
Siswa tentang Materi-materi Kimia yang Sulit dalam Kurikulum di Beberapa Sekolah
di Jambi”. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas
Workshop Pendidikan, dimana Workshop Pendidikan merupakan salah satu
mata kuliah yang ada di program studi pendidikan kimia Universitas Jambi.
Makalah ini disusun sebagai upaya untuk membantu mahasiswa dalam memahami
masalah-masalah dan konsep-konsep yang berhubungan dengan Workshop Pendidikan.
Pada
kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
- Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi Rahmat-Nya dalam pembuatan makalah ini.
- Dosen Pembimbing mata kuliah Pengembangan Proses Pembelajaran Kimia, Dr.Drs.Syamsurizal,M.Si
- Kedua orang tua yang telah memberi motivasi serta doa-doanya.
- Serta teman-teman yang telah memberi bantuan berupa moril maupun materil.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan
saran dari pembaca sangat dibutuhkan dalam penyempurnaan makalah ini. Akhirnya
semoga makalah ini bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan pembaca pada
umumnya.
Jambi, April 2016
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................................... 1....
1.1
Latar Belakang .......................................................................................................... 2..
1.2
Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3
Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................. 3
2.1
Pengertian
Belajar....................................................................................................... 4..
2.2
Karakteristik
Materi Kimia......................................................................................... 5..
2.3
Persepsi
Siswa tentang Materi – Materi Kimia yang Sulit yang Ada di Kurikulum
Berdasarkan Angket yang di Sebarkan di Beberapa Sekolah di Jambi..................................................................... 6
2.4
Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan dalam Belajar................................. 8
2.5
Cara
Mengatasi Kesulitan Belajar..............................................................................
11
BAB III PENUTUP........................................................................................................... 13
3.1
Kesimpulan................................................................................................................. 13
3.2
Saran...........................................................................................................................
13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Persepsi
merupakan pengaturan dan penerjemahan informasi sensorik oleh otak (Wade,
2007). Persepsi dalam diri seseorang berarti pandangan, tanggapan, anggapan
langsung dari dalam diri seseorang terhadap sesuatu objek tertentu melalui
pengenalan panca indra yang dimiliki oleh manusia (Slameto, 2010). Proses
terjadinya persepsi yaitu persepsi berlangsung saat seseorang menerima stimulus
dari dunia luar yang ditangkap oleh organ-organ bantunya yang kemudian masuk ke
dalam otak. Didalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya terwujud
dalam sebuah pemahaman. Pemahaman inilah yang disebut persepsi (Sarwono, 2010).
Pelajaran
kimia merupakan ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan
sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat (Mulyasa, 2011). Kemauan belajar
siswa terhadap pelajaran kimia berhubungan erat dengan tertarik atau tidaknya
siswa tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kimia. Siswa yang kurang
menyenangi pelajaran kimia dari awal sudah tidak tertarik dengan
masalah-masalah yang menyangkut kimia. Dampaknya siswa akan cenderung
beranggapan bahwa kimia itu tidak menarik dan kurang bermanfaat. Hal ini
merupakan persepsi negatif siswa tentang pelajaran kimia. Sebaliknya, siswa
yang beranggapan bahwa kimia adalah mata pelajaran yang menyenangkan dan
bermanfaat, maka siswa cenderung ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai
pelajaran kimia yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
seperti yang dikemukakan oleh Syah (2010) yaitu dengan meyakini manfaat mata
pelajaran tertentu siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh
itu diharapkan muncul semangat terhadap mata pelajaran tersebut sekaligus akan
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tersebut. Persepsi terjadi
karena setiap manusia memiliki indera untuk menyerap objek-objek serta kejadian
di sekitarnya. Sehingga pada akhirnya persepsi dapat mempengaruhi cara
berfikir, bekerja serta bersikap pada diri seseorang.
Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur persepsi terhadap ilmu kimia adalah angket. Angket termasuk alat untuk
mengumpulkan atau mencatatkan data atau informasi, sikap dan paham dalam
hubungan kausal (Zainal Arifin, 1991 : 62), termasuk persepsi terhadap ilmu
kimia dalam hubungannya kausalnya dengan prestasi belajar kimia siswa. Adapun
kesimpulan yang dapat kami tarik, terhadap angket yang telah kami sebarkan
keberbagai sekolah yang di ada di Jambi sebagai berikut. Berdasarkan angket yang telah disebar, kesulitan yang dihadapi siswa
terhadap materi kimia ini dipicu karena, siswa sendiri sebenarnya tertarik pada
pelajaran kimia, namun mereka masih sulit memahami materi. Siswa tidak mau
mencari wawasan atau pengetahuan serta informasi lebih lanjut mengenai materi
diluar kelas, jadi hanya sebatas pada saat proses pembelajaran berlangsung
saja.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
persepsi siswa mengenai pembelajaran kimia di beberapa SMA di Jambi
2. Apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam pelajaran kimia
3.
Bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam
pelajaran kimia di SMA
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
persepsi siswa mengenai pembelajaran kimia di beberapa SMA di Jambi
2. Mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam pelajaran kimia
3.
Mengetahui cara mengatasi kesulitan
dalam pelajaran kimia di SMA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu
proses adaptasi yang berlangsung secara progressif, juga merupakan suatu proses
perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Jadi dapat diartikan
proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan
psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif
dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
Belajar adalah kegiatan
yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Dengan demikian, para ahli
banyak yang membuat definisi tentang belajar yang berbeda, karena perbedaan
sudut pandangnya.
Di bawah ini akan
dikemukakan definisi belajar menurut beberapa ahli, di antaranya :
1. Skinner dalam Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology : The Teaching
1. Skinner dalam Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology : The Teaching
Learning Process,
belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progressif.
2. Chaplin (1972) dalam Dictionary Psychology membatasi belajar dengan 2 macam :
2. Chaplin (1972) dalam Dictionary Psychology membatasi belajar dengan 2 macam :
a. Belajar adalah perolehan
perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat dari latihan dan
pengalaman.
b. Belajar adalah proses
memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
3. Hintzman (1987) dalam
bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat
Bahwa belajar adalah
suatu perubahan yang terjadi pada diri organisme, manusia atau hewan disebabkan
oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
4. Reber (1989) dalam
Dictionary of Psychology. Menurutnya ada 2 definisi tentang belajar,
yaitu :
a. Belajar adalah proses
memperoleh pengetahuan
b. Belajar adalah suatu
perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang
diperkuat.
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang
memerlukan perhatian khusus, keuletan, keteguhan, ketekunan, kerajinan dan
kedisiplinan. Oleh karena itu agar proses pembelajaran yang diselenggarakan
berdayaguna dan berhasil guna, maka proses pembelajaran tersebut benar-benar
harus dilaksanakan dengan baik dan berdisiplin tinggi. Disiplin merupakan salah
satu faktor penunjang keberhasilan pembelajaran dan hal ini harus dilakukan oleh
semua warga yang terlibat dalam sebuah lembaga yang melakukan proses
pendidikan.
Harapan yang tak pernah sirna dan selalu
dituntut oleh guru adalah bagaimana bahan pelajaran itu yang disampaikan guru
dapat disukai anak secara tuntas. Hal ini merupakan masalah yang cukup rumit
dirasakan oleh guru, di mana anak mempunyai kepribadian yang beraneka ragam,
ciri khas individu merupakan keunikannya. Mereka juga makhluk sosial dengan
latar belakang yang berlainan.
Keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh beberapa
faktor yang menunjang terhadap keberhasilan proses belajar-mengajar tersebut.
Faktor metode mengajar akan berkaitan dengan model pembelajaran yang
diterangkan. Pendidikan prasekolah sangat penting artinya, bukan hanya sebagai
pengisi waktu anak saja, tetapi juga untuk mempersiapkan anak di masa
mendatang. Banyak para tokoh yang mengakui tentang pentingnya pendidikan
prasekolah atau pendidikan anak usia dini.
2.2 Karakteristik Materi Kimia
Kimia
adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan di Sekolah
Menengah Atas (SMA). Ilmu ini mempelajari berbagai fenomena alam yang berkaitan
dengan komposisi, struktur, dan sifat serta perubahan yang melibatkan
keterampilan dan penalaran. Berdasarkan hal tersebut, maka pembelajaran kimia
harus lebih diarahkan pada proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa
untuk membantu siswa untuk memahami konsep dalam pembelajaran kimia. Laliyo
(2011) mengemukakan bahwa pada dasarnya belajar kimia, sesuai dengan
karakteristiknya, harus dimulai dari mengerjakan masalah yang berlangsung dalam
kehidupan sehari-hari siswa. Melalui menyelesaikan masalah dalam kehidupan yang
nyata dengan menerapkan pengetahuan kimia, peserta didik diharapkan dapat
membangun pengertian dan pemahaman konsep kimia lebih bermakna karena mereka
membentuk sendiri struktur pengetahuan konsep kimia melalui bantuan atau
bimbingan guru.
Kajian
dalam kimia memungkinkan pebelajar memahami mengapa dan bagaimana suatu
fenomena terjadi disekitarnya. Eksplanasi konsep-konsep kimia umumnya berlandaskan
struktur materi dan ikatan kimia yang merupakan materi subyek yang sulit untuk
dipelajari. Konsep-konsep abstrak tersebut penting dipelajari, karena
konsep-konsep kimia selanjutnya akan sulit dipahami, jika tidak dikuasai
pebelajar degan baik. Sifat keabstrakan konsep-konsep kimia juga sejalan dengan
konsep-konsep yang melibatkan perhitungan matematis. Hal ini menunjukkan bahwa
pelajaran kimia memerlukan seperangkat keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Salah satu karakter esensial ilmu kimia adalah pengetahuan kimia mencakup tiga
level representasi, yaitu makroskopis, submikroskopis, dan simbolik serta
hubungan antara ketiga level ini harus secara eksplisit diajarkan.
Wiseman (1981) mengemukakan bahwa ilmu kimia
merupakan salah satu pelajaran tersulit bagi kebanyakan siswa menengah.
Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri-ciri ilmu kimia itu
sendiri yang disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (1985) sebagai berikut:
1.
Sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak
Atom, molekul, dan ion merupakan materi dasar kimia yang tidak
nampak, yang menurut siswa membayangkan keberadaan materi tersebut tanpa
mengalaminya secara langsung. Karena atom merupakan pusat kegiatan kimia, maka
walaupun kita tidak dapat melihat atom secara langsung, tetapi dalam angan-angan
kita dapat membentuk suatu gambar untuk mewakili sebuah atom oksigen kita
gambarkan secara bulatan.
2.
Ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari
yang sebenarnya
Kebanyakan obyek yang ada di dunia ini merupakan campuran zat-zat
kimia yang kompleks dan rumit. Agar segala sesuatunya mudah dipelajari, maka
pelajaran kimia dimulai dari gambaran yang disederhanakan, di mana zat-zat
dianggap murni atau hanya mengandung dua atau tiga zat saja. Dalam
penyederhanaanya diperlukan pemikiran dan pendekatan tertentu agar siswa tidak
mengalami salah konsep dalam menerima materi yang diajarkan tersebut.
3.
Sifat ilmu kimia berurutan dan
berkembang dengan cepat
Seringkali topik-topik kimia harus dipelajari dengan urutan
tertentu. Misalnya, kita tidak dapat menggabungkan atom-atom untuk membentuk
molekul, jika atom dan karakteristiknya tidak dipelajari terlebih dahulu.
Disamping itu, perkembangan ilmu kimia sangat cepat, seperti pada bidang
biokimia yang menyelidiki tentang rekayasa genetika, kloning, dan sebagainya. Hal
ini menuntut kita semua untuk lebih cepat tanggap dan selektif dalam menerima
semua kunjungan tersebut.
4.
Ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal
5.
Bahan/materi yang dipelajari dalam ilmu kimia sangat banyak
2.3 Persepsi Siswa tentang Materi-materi Kimia yang Sulit yang Ada di Kurikulum Berdasarkan Angket yang di Sebarkan di Beberapa Sekolah di Jambi
Persepsi
merupakan pengaturan dan penerjemahan informasi sensorik oleh otak (Wade,
2007). Persepsi dalam diri seseorang berarti pandangan, tanggapan, anggapan
langsung dari dalam diri seseorang terhadap sesuatu objek tertentu melalui
pengenalan panca indra yang dimiliki oleh manusia (Slameto, 2010). Proses
terjadinya persepsi yaitu persepsi berlangsung saat seseorang menerima stimulus
dari dunia luar yang ditangkap oleh organ-organ bantunya yang kemudian masuk ke
dalam otak. Didalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya terwujud
dalam sebuah pemahaman. Pemahaman inilah yang disebut persepsi (Sarwono, 2010).
Analog dengan pengertian persepsi, maka persepsi siswa tentang pelajaran kimia
dapat diartikan sebagai pengorganisasian dan penafsiran stimulus dalam
lingkungan belajar kimia yang terdiri dari mata pelajaran, materi dan semua hal
yang terkait dengan proses pembelajaran kimia itu sendiri. Penilaian tersebut
juga dapat bernilai positif dan negatif.
Pelajaran
kimia merupakan ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan
sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat (Mulyasa, 2011). Kemauan belajar
siswa terhadap pelajaran kimia berhubungan erat dengan tertarik atau tidaknya
siswa tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kimia. Siswa yang kurang
menyenangi pelajaran kimia dari awal sudah tidak tertarik dengan
masalah-masalah yang menyangkut kimia. Dampaknya siswa akan cenderung
beranggapan bahwa kimia itu tidak menarik dan kurang bermanfaat. Hal ini
merupakan persepsi negatif siswa tentang pelajaran kimia. Sebaliknya, siswa
yang beranggapan bahwa kimia adalah mata pelajaran yang menyenangkan dan
bermanfaat, maka siswa cenderung ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai
pelajaran kimia yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
seperti yang dikemukakan oleh Syah (2010) yaitu dengan meyakini manfaat mata
pelajaran tertentu siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh
itu diharapkan muncul semangat terhadap mata pelajaran tersebut sekaligus akan
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tersebut. Prawiradilaga
dan Eveline (2007) mengungkapkan bahwa persepsi adalah awal dari segala macam
kegiatan belajar yang bisa terjadi pada setiap kesempatan, disengaja atau
tidak. Persepsi terjadi karena setiap manusia memiliki indera untuk menyerap
objek-objek serta kejadian di sekitarnya. Sehingga pada akhirnya persepsi dapat
mempengaruhi cara berfikir, bekerja serta bersikap pada diri seseorang. Jadi,
dapat disimpulkan bahwa persepsi seseorang terhadap suatu objek sangat
dipengaruhi oleh inderanya yang disebabkan karena penerimaan informasi yang
diperolehnya dari suatu objek. Siswa akan memperoleh hasil yang baik pada suatu
objek (pelajaran kimia) apabila memiliki persepsi yang baik pula terhadap objek
tersebut (pelajaran kimia), begitu juga sebaliknya yaitu siswa akan memperoleh
hasil yang buruk pada pelajaran kimia apabila memiliki persepsi yang buruk pula
tentang pelajaran kimia.
Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur persepsi terhadap ilmu kimia adalah angket. Angket termasuk alat untuk
mengumpulkan atau mencatatkan data atau informasi, sikap dan paham dalam
hubungan kausal (Zainal Arifin, 1991 : 62), termasuk persepsi terhadap ilmu
kimia dalam hubungannya kausalnya dengan prestasi belajar kimia siswa. Adapun
kesimpulan yang dapat kami tarik, terhadap angket yang telah kami sebarkan keberbagai
sekolah yang di ada di Jambi sebagai berikut:
Kesimpulan: Di berbagai sekolah yang kami survei (yaitu SMAN 3 Kota Jambi,
SMAN 6 Kota Jambi, dan SMAN 9 Kota Jambi), sebagian besar siswa sulit memahami
pembelajaran kimia. Namun sebagian siswa tersebut tertarik pada materi kimia
yang bersifat abstrak dan perhitungan, tetapi tidak 100% menguasainya. Pada
materi kimia yang bersifat konsep, siswa kurang dapat memahami. Karena pada
saat proses pembelajaran berlangsung, tidak semua siswa berkonsentrasi. Hanya
pada saat diskusi saja sebagian siswa menjadi aktif. Pada saat penyampaian
materi, guru menyampaikannya dengan jelas, dan sudah menggunakan model dan
metode yang sesuai dengan materi kimia yang diajarkan. Jadi kesulitan yang
dihadapi siswa terhadap materi kimia ini dipicu karena, siswa sendiri
sebenarnya tertarik pada pelajaran kimia, namun mereka masih sulit memahami
materi. Siswa tidak mau mencari wawasan atau pengetahuan serta informasi lebih
lanjut mengenai materi diluar kelas, jadi hanya sebatas pada saat proses
pembelajaran berlangsung saja.
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan dalam Belajar
Perubahan tingkah laku
merupakan salah satu tujuan belajar, namun ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kesulitan dalam belajar. Faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam
belajar ada 2 macam, yaitu :
a. Faktor Intern Belajar
Faktor intern merupakan
faktor yang berasal dari dalam individu sendiri, misalnya kematangan,
kecerdasan, motivasi dan minat.
·
Kematangan
Karena kematangan mentalnya belum matang, kita akan sukar mengajarkan konsep-konsep ilmu Filsafat kepada siswa sekolah dasar. Pemberian materi tertentu akan tercapai apabila sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu atau siswa. Oleh karena itu, baik potensi jasmani maupun rohaninya perlu dipertimbangkan lagi kematangannya.
Karena kematangan mentalnya belum matang, kita akan sukar mengajarkan konsep-konsep ilmu Filsafat kepada siswa sekolah dasar. Pemberian materi tertentu akan tercapai apabila sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu atau siswa. Oleh karena itu, baik potensi jasmani maupun rohaninya perlu dipertimbangkan lagi kematangannya.
·
Kecerdasan (IQ)
Keberhasilan individu
mempelajari berbagai pengetahuan ditentukan pula oleh tingkat kecerdasannya,
misalnya, suatu ilmu pengetahuan telah cukup untuk dipelajari oleh seseorang
individu dalam taraf usia tertentu. Tetapi kecerdasan individu yang
bersangkutan kurang mendukung, maka pengetahuan yang telah dipelajarinya tetap
tidak akan dimengerti olehnya. Demikian pula dalam hal-hal yang lain, seperti
dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, misalnya memasak dan membuat mainan
sederhana, dalam tingkat yang sama tidak semuanya individu mampu mengerjakannya
dengan baik.
·
Motivasi
Motivasipun menentukan keberhasilan belajar. Motivasi merupakan dorongan untuk mengerjakan sesuatu. Dorongan tersebut ada yang datang dari dalam individu yang bersangkutan dan ada pula yang datang dari luar individu yang bersangkutan, seperti peran orang tua, teman dan guru.
Motivasipun menentukan keberhasilan belajar. Motivasi merupakan dorongan untuk mengerjakan sesuatu. Dorongan tersebut ada yang datang dari dalam individu yang bersangkutan dan ada pula yang datang dari luar individu yang bersangkutan, seperti peran orang tua, teman dan guru.
·
Minat
Minat belajar dari dalam individu sendiri merupakan faktor yang sangat dominan dalam pengaruhnya pada kegiatan belajar, sebab kalau dari dalam diri individu tidak mempunyai sedikitpun kemauan atau minat untuk belajar, maka pelajaran yang telah diterimanya hasilnya akan sia-sia. Otomatis pelajaran tersebut tidak masuk sama sekali di dalam IQ-nya.
Minat belajar dari dalam individu sendiri merupakan faktor yang sangat dominan dalam pengaruhnya pada kegiatan belajar, sebab kalau dari dalam diri individu tidak mempunyai sedikitpun kemauan atau minat untuk belajar, maka pelajaran yang telah diterimanya hasilnya akan sia-sia. Otomatis pelajaran tersebut tidak masuk sama sekali di dalam IQ-nya.
b. Faktor Ekstern Belajar
Faktor ekstern erat
kaitannya dengan faktor sosial atau lingkungan individu yang bersangkutan.
Misalnya keadaan lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat , guru dan alat
peraga yang dipergunakan di sekolah.
·
Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga pun
sangat menentukan keberhasilan belajar. Status ekonomi, status sosial,
kebiasaan dan suasana lingkungan keluarga ikut serta mendorong terhadap
keberhasilan belajar. Suasana keluarga yang tentram dan damai sangat menunjang
keharmonisan hubungan keluarga. Hubungan orang tua dan anak akan dirasakan
saling memperhatikan dan melengkapi. Apabila anak menemukan kesulitan belajar,
dengan bijaksana dan penuh pengertian orang tuanya memberikan pandangan dan
pendapatnya terhadap penyelesaian masalah belajar anaknya.
·
Lingkungan Masyarakat
Peran masyarakat sangat
mempengaruhi individu dalam belajar. Setiap pola masyarakat yang mungkin
menyimpang dengan cara belajar di sekolah akan cepat sekali menyerap ke diri
individu, karena ilmu yang didapat dari pengalamannya bergaul dengan masyarakat
akan lebih mudah diserap oleh individu daripada pengalaman belajarnya di
sekolah. Jadi peran masyarakat akan dapat merubah tingkah laku individu dalam
proses belajar.
· Guru
Peran guru dapat mempengaruhi belajar. Bisa dilihat dari cara guru mengajar kepada siswa, hal ini sangat menentukan dalam keberhasilan belajar. Sikap dan kepribadian guru, dasar pengetahuan dalam pendidikan, penguasaan teknik-teknik mengajar, dan kemampuan menyelami alam pikiran setiap individu siswa merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, guru sebagai motivator, guru sebagai fasilitator, guru sebagai inovator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan selama proses pendidikan berlangsung.
Peran guru dapat mempengaruhi belajar. Bisa dilihat dari cara guru mengajar kepada siswa, hal ini sangat menentukan dalam keberhasilan belajar. Sikap dan kepribadian guru, dasar pengetahuan dalam pendidikan, penguasaan teknik-teknik mengajar, dan kemampuan menyelami alam pikiran setiap individu siswa merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, guru sebagai motivator, guru sebagai fasilitator, guru sebagai inovator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan selama proses pendidikan berlangsung.
· Bentuk Alat Pelajaran
Bentuk alat pelajaran
bisa berupa buku-bukun pelajaran, alat peraga, alat-alat tulis menulis dan
sebagainya. Kesulitan untuk mendapatkan atau memiliki alat-alat pelajaran
secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keberhasilan dalam
belajar siswa. Siswa akan cenderung berhasil apabila dibantu oleh alat-alat
pelajaran yang memadai. Alat pelajaran tersebut akan menunjang proses pemahaman
anak. Misalnya, melalui praktek sederhana dari materi pelajaran yang telah mereka
pelajari.
·
Kesempatan Belajar
Kesempatan belajar
merupakan faktor yang sedang diupayakan Pemerintah melalui Wajib Belajar
(Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang mulai dicanangkan tahun pelajaran
1994/1995. Pencanangan Wajar tersebut merupakan alternatif pemberian kesempatan
kepada para siswa, terutama bagi mereka yang orang tuanya berekonomi kurang
mampu.
Fenomena lain kesulitan
belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik
atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan
munculnya kelainan perilaku siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam
kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah dan sering minggat
dari sekolah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti :
1) Rendahnya kemampuan
intelektual anak
2) Gangguan perasaan /
emosi
3) Kurangnya motivasi
untuk belajar
4) Kurang matangnya anak
untuk belajar
5) Usia yang terlalu
muda
6) Latar belakang sosial
yang tidak menunjang
7) Kebiasaan belajar
yang kurang baik
8) Kemampuan mengingat
yang rendah
9) Terganggunya
alat-alat indera
10) Proses belajar
mengajar yang tidak sesuai
11) Tidak adanya
dukungan dari lingkungan belajar.
2.5 Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Sehubungan dengan kondisi dan cara belajar yang ditempuh sebagian
besar siswa, maka strategi belajar di tingkat apapun sebenarnya tetap sama.
Kuncinya hanya dua hal, yaitu disiplin waktu dan konsentrasi.
Sepertinya hal ini hanyalah ucapan klise, tapi memang itulah kunci
keberhasilan siswa. Disiplin waktu mengandung pengertian bahwa siswa tahu betul
bagaimana mengatur waktu, kapan harus belajar, kapan harus main, dll. Jadi,
disiplin waktu berarti siswa dapat memilah-milah waktu sedemikian rupa sehingga
antara kegiatan yang satu dengan yang lain tidak saling mengganggu. Pemilahan
waktu yang baik bagi siswa terutama melatih agar siswa memiliki rencana belajar
yang teratur. Keteraturan dalam belajar meliputi teratur mengikuti pelajaran,
membaca buku, mempelajari materi. Hanya dengan jalan pikiran yang teratur, maka
konsep-konsep yang sulit dapat dimengerti dan dikuasai. Dengan keteraturan
belajar menghindarkan siswa dari “cramming”, yaitu keadaan dimana siswa
belajar mati-matian untuk memadatkan kepalanya dengan semua pelajaran yang dampaknya
amat buruk bagi kesehatan dan perjalanan studi lebih lanjut. Dengan demikian
siswa memang dituntut untuk belajar secara teratur bukan belajar secara borongan.
Melalui belajar teratur maka materi-materi yang kurang paham akan cepat diketahui
dan dikuasai, baik melalui penelusuran buku-buku maupun tanya-jawab dan diskusi
sesama teman.
Kunci keberhasilan yang kedua adalah konsentrasi, yaitu pemusatan
pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan.
Pada umumnya yang mengganggu konsentrasi siswa, antara lain : kurang minat,
gangguan sekeliling, jemu dan jenuh dengan materi kuliah dan gangguan
kesehatan. Kurang minat tersebut terjadi karena jurusan yang dipilih tidak disukai,
dosen yang mengajar kurang menarik (acuh, monoton dalam mengajar, tidak memberi
kesempatan siswa untuk bertanya, dll.). Akibat dari kurang minat ini menyebabkan
malas hadir dalam pelajaran, padahal hadir dalam pelajaran sangat penting,
apalagi materi-materi pelajaran saling berhubungan satu dengan yang lain.
Untuk mengatasi gangguan-gangguan tersebut dapat ditempuh dengan
cara menyadari manfaat dan segi menarik dari materi-materi pelajaran yang ada.
Selain itu, berusaha menyukai guru-guru yang mengajar dengan melihat segi
kemanfaatan ilmu tersebut disertai kesadaran bahwa setiap guru mempunyai tipe
mengajar yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui
tentang sesuatu objek tertentu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/1984
: 13). Pangkal kelahiran pengetahuan adalah adanya rasa ingin tahu pada manusia
(Abdullah Aly, dkk., 1991 : Dengan rasa ingin tahu tersebut manusia berusaha
memenuhi keingintahuannya sehingga lahirlah pengetahuan. Oleh karena itu, bila
siswa ingin menguasai suatu ilmu pengetahuan, maka dalam dirinya harus selalu
muncul rasa ingin tahu dan berusaha mencari jawabannya. Siswa yang ingin
berhasil harus selalu haus dan penasaran terhadap materi-materi yang diajarkan.
Rasa penasaran mencari jawaban tersebut harus selalu dikobarkan agar tidak ada
perasaan pasrah dan menyerah bila tidak memahami suatu materi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemaparan diatas,
maka dapat disimpulkan:
1. Belajar adalah suatu
proses adaptasi yang berlangsung secara progressif, juga merupakan suatu proses
perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Jadi dapat diartikan
proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan
psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.
2. Karakteristik
materi kimia: Sebagian bersifat abstrak, penyederhanaan dari yang
sebenarnya, sifatnya berurutan dan berkembang dengan cepat, tidak hanya sekedar
memecahkan soal-soal,dan bahan/materi yang dipelajari dalam ilmu kimia sangat
banyak
3. Kesulitan yang dihadapi
siswa terhadap materi kimia ini dipicu karena, siswa sendiri sebenarnya
tertarik pada pelajaran kimia, namun mereka masih sulit memahami materi. Siswa
tidak mau mencari wawasan atau pengetahuan serta informasi lebih lanjut
mengenai materi diluar kelas, jadi hanya sebatas pada saat proses pembelajaran
berlangsung saja.
4. Faktor yang mempengaruhi
kesulitan dalam belajar ada 2 macam, yaitu : faktor internal dan eksternal.
5. Cara
mengatasi kesulitan belajar, kuncinya hanya dua hal,
yaitu disiplin waktu dan konsentrasi.
3.2
Saran
Dalam
penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak
luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
konstruktif akan senantiasa penyusun nanti dalam upaya evaluasi diri. Akhirnya
penulis hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan
penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat
atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca. Sehingga teman – teman yang
akan menjadi seorang guru profesional dibidang ilmu masing-masing untuk memberi
saran dan perbaikan terhadap makalah
yang saya buat ini. Sehinggga nantinya makalah ini bisa
dijadikan sedikit acuan dalam pembuatan desain pembelajaran disekolah kita
masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Mulyasa, E. 2011. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2007. Mozaik
Teknologi Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Riduwan. 2009. Pengantar Statistika Sosial. Bandung:
Alfabeta.
Sarwono, Sarlito. 2010. Pengantar Psikologi Umum.
Jakarta: Rajawali Pers.
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Wade, Carole. 2007. Psikologi edisi Kesembilan
Jilid I. Jakarta: Erlangga.