Fowler (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pengertian
yang tidak akurat terhadap konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi
contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan
konsep-konsep yang tidak benar(Suparno, 2005).
Adapun sumber-sumber Miskonsepsi yaitu : Suparno (2005) menjelaskan ada lima faktor yang merupakan penyebab miskonsepsi pada siswa, yaitu : 1) siswa, 2) guru, 3) buku teks, 4) konteks, dan 5) metode mengajar.
1) Siswa
Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam 8 kategori, sebagai berikut :
- Prakonsepsi atau konsep awal siswa yang mana pada mulanya siswa sudah mempunyai konsep awal sebelum mereka mengikuti pelajaran di sekolah. Prakonsepsi sering bersifat miskonsepsi karena penalaran seseorang terhadap suatu fenomena berbeda-beda.
- Pemikiran asosiatif yaitu jenis pemikiran yang mengasosiasikan atau menganggap suatu konsep selalu sama dengan konsep yang lain. Asosiasi siswa terhadap istilah yang ditemukan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari sering menimbulkan salah penafsiran.
- Pemikiran humanistik yaitu memandang semua benda dari pandangan manusiawi. Tingkah laku benda dipahami sebagai tingkah laku makhluk hidup, sehingga tidak cocok.
- Reasoning atau penalaran yang tidak lengkap atau salah. Alasan yang tidak lengkap diperoleh dari informasi yang tidak lengkap pula. Akibatnya siswa akan menarik kesimpulan yang salah dan menimbulkan miskonsepsi.
- Intuisi yang salah, yaitu suatu perasaan dalam diri seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu tanpa penelitian secara obyektif dan rasional. Pola pikir intuitif sering dikenal dengan pola pikir yang spontan.
- Tahap perkembangan kognitif siswa yang secara umum, siswa yang dalam proses perkembangan kognitif akan sulit memahami konsep yang abstrak. Dalam hal ini, siswa baru belajar pada hal-hal yang konkrit yang dapat dilihat dengan indera.
- Kemampuan siswa. Siswa yang kurang mampu dalam mempelajari kimia akan menemukan kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang diajarkan. Secara umum, siswa yang kurang mampu berpikir logisnya tinggi akan mengalami kesulitan memahami konsep kimia, terlebih konsep yang abstrak.
- Minat belajar. Siswa yang memiliki minat belajar kimia yang besar akan sedikit mengalami miskonsepsi dibandingkan siswa yang tidak berminat.
2) Guru
Guru yang tidak menguasai bahan atau tidak memahami konsep kimia dengan benar juga merupakan salah satu penyebab miskonsepsi siswa. Guru terkadang menyampaikan konsep kimia yang kompleks secara sederhana dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa. Kadang-kadang guru mengutamakan penyampaian rumusan matematis sedangkan penyampaian konsep fisisnya dikesampingkan. Pola pengajaran guru masih terpaku pada papan tulis, jarang melakukan eksperimen dan penyampaian masalah yang menantang proses berpikir siswa. Miskonsepsi siswa akan semakin kuat apabila guru bersikap otoriter dan menerapkan metode ceramah dalam mengajar. Hal ini mengakibatkan interaksi yang terjadi hanya satu arah, sehingga semakin besar peluang miskonsepsi guru ditransfer langsung pada siswa.
3) Buku Teks
Buku teks yang dapat mengakibatkan munculnya miskonsepsi siswa adalah buku teks yang bahasanya sulit dimengerti dan penjelasannya tidak benar. Buku teks yang terlalu sulit bagi level siswa yang sedang belajar dapat menumbuhkan miskonsepsi karena mereka sulit menangkap isinya.
4) Konteks
Konteks yang dimaksud di sini adalah pengalaman, bahasa sehari-hari, teman, serta keyakinan dan ajaran agama. Bahasa sebagai sumber prakonsepsi pertama sangat potensial mempengaruhi miskonsepsi, karena bahasa mengandung banyak penafsiran.
5) Metode Mengajar
Metode mengajar guru yang tidak sesuai dengan konsep yang dipelajari akan dapat menimbulkan miskonsepsi. Guru yang hanya menggunakan satu metode pembelajaran untuk semua konsep akan memperbesar peluang siswa terjangkit miskonsepsi. Metode ceramah yang tidak memberikan kesempatan siswa untuk bertanya dan juga untuk mengungkapkan gagasannya sering kali meneruskan dan memupuk miskonsepsi. Penggunaan analogi yang tidak tepat juga merupakan salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi.
Metode praktikum yang sangat membantu dalam proses pemahaman, juga dapat menimbulkan miskonsepsi karena siswa hanya dapat menangkap konsep dari data-data yang diperoleh selama praktikum. Metode diskusi juga dapat berperan dalam menciptakan miskonsepsi. Bila dalam diskusi semua siswa mengalami miskonsepsi, maka miskonsepsi mereka semakin diperkuat.
Jadi miskonsepsi merupakan bagian dari pengetahuan yang dimiliki siswa dan bertentangan dengan pelajaran berikutnya, sedemikian sehingga informasi yang baru tidak bisa terintegrasi sewajarnya dan pemahaman siswa kurang serta miskonsepsi terhadap konsep baru tak bisa diabaikan. Pengetahuan siswa yang miskonsepsi mendorong guru untuk menemukan pertanyaan dan permasalahan yang bisa menciptakan ketidakpuasan ke dalam diri siswa terhadap pandangan yang mereka miliki. Dengan demikian akan memunculkan pengenalan gagasan ke arah situasi yang berlawanan. Ini mampu memodifikasi siswa ke arah pandangan yang baru, yang akhirnya menuju ke perubahan konseptual dan pemahaman konseptual.
Miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak terelakkan bagian dari proses belajar. Miskonsepsi sering di bawa siswa dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Seperti yang terjadi di sekolah menengah, siswa miskonsepsi terkait konsep. Penyampaian informasi yang kurang jelas dan kurang lengkap yang diterima oleh siswa dalam proses belajar juga diduga sebagai penyebab terjadinya miskonsepsi. Bahkan pemilihan strategi pengajaran yang kurang tepat, misalnya penggunaan analogi yang kurang tepat, dapat juga mengganggu proses berpikir siswa dan mendapat kesulitan dalam memahami konsep-konsep kimia yang dipelajari.
Menurut Katu (dalam Asma & Masril, 2002), untuk mendeteksi miskonsepsi dapat dilakukan sebagai berikut.
a) Memberi tes diagnostik pada awal perkuliahan atau pada setiap akhir pembahasan. Bentuknya dapat berupa tes obyektif pilihan ganda atau bentuk lain seperti menggambarkan atau penjelasan dengan kata-kata.
b) Dengan memberikan tugas-tugas terstruktur misalnya tugas mandiri atau kelompok sebagai tugas akhir pengajaran atau tugas pekerjaan rumah.
c) Dengan memberikan pertanyaan terbuka, pertanyaan terbalik (reverse question) atau pertanyaan yang kaya konteks (context-rich problem).
d) Dengan mengoreksi langkah-langkah yang digunakan siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal esai.
e) Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara lisan kepada siswa atau mahasiswa.
f) Dengan mewawancarai misalnya dengan menggunakan kartu pertanyaan
sebagai contoh
dari miskonsepsi dalam pembelajran kimia yaitu :
Di dalam ruang lingkup sekolah, kimia lebih dikenal dengan mata pelajaran
yang mempelajari yang sulit dan susah. Dikarnakan didalam mempelajarinnya
tentang unsur-unsur dalam tabel sistem periodiknya. Unsur itu dipelajari
dari karakteristik kimia dan fisiknya, keterkaitan satu unsur dengan lainnya,
sampai pada matematisnya.Walaupun kimia sangat dekat dengan kehidupan, tapi
miskonsepsi dalam memahami kimia sering kali terjadi. Hal ini terjadi karena
minimnya pengetahuan kita akan ruang lingkup kimia. Menurut Euwe Van den Berg
miskonsepsi merupakan pertentangan atau ketidakcocokan konsep yang dipahami
seseorang dengan konsep yang dipakai pakar ilmu yang bersangkutan. Miskonsepsi
itu biasa dialami siswa bahkan guru.
Di dalam dunia pendidikan, kimia sudah dikelompokkan menjadi sub-sub bab
agar materinya lebih mudah dipahami. Namun, hal ini tidak berjalan sesuai
harapan sampai pemerintah memutuskan perubahan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) menjadi kurikulum 2013 yang bersifat tematik integraif dimana kimia
akan diintegrasikan ke bidang studi tertentu. Kurikulum dahulu dirasa membatasi
kemampuan observasi dan menghambat daya nalar siswa, misalnya, siswa diajarkan
materi hidrokarbon.
Hidrokarbon mempelajari suatu senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan Hidrogen (H). Di dalamnya menyajikan reaksi bagaimana proses pembakaran senyawa hidrokarbon, persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
Hidrokarbon mempelajari suatu senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan Hidrogen (H). Di dalamnya menyajikan reaksi bagaimana proses pembakaran senyawa hidrokarbon, persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
CH4 + 2 O2 → 2 H2O + CO2 + Energi ......... (1)
Jika pendidik
hanya mengikuti pola kurikulum yang menuntut sesuai dengan tujuan sub materi
yang diajarkan maka akan mengurangi tingkat efisiensi nalar seorang siswa.
Padahal jika sekaligus dijelaskan bahwa ada materi redoks maupun stoikiometri
di dalamnya, siswa menjadi individu yang lebih observatif. Di dalam persamaan
(1), perubahan bilangan oksidasi atom C dari -4 menjadi +4 dan perubahan
bilangan oksidasi atom O dari 0 menjadi -2 merupakan materi redoks dan jumlah
energi yang dihasilkan merupakan stoikiometri.
Memang benar pendapat para ahli pendidikan yang memaparkan bahwa hal
terpenting yang dibawa ke ruang kelas oleh setiap siswa sebelum memulai
pelajaran adalah konsep-konsep yang telah mereka miliki dan kuasai sebelumnya.
Miskonsepsi yang terjadi di dalam ruang lingkup kimia dapat terjadi akibat
konsep dalam kimia bersifat abstrak atau tidak tampak bahkan buku yang menjadi
sumber belajar atau literatur menyajikan pembahasan yang keliru. Tidak jarang
ditemukan lembar kerja peserta didik yang lebih dikenal dengan LKPD (Lembar Kerja
Peserta Didik) yang memaparkan materi pergeseran kesetimbangan yang keliru. Sehingga
persoalan seperti penambahan gas CS2 ke sistem kesetimbangan :
CS2 (g) + 4H2 (g) ⇌ CH4 (g)
+ 2H2S (g)
pada tekanan dan suhu konstan mengalami pergeseran kesetimbangan ke reaktan ataukah produk?. Banyak siswa yang terbalik dalam memahaminya. Seharusnya mengalami pergeseran ke arah produk justru siswa memahaminya ke arah reaktan. Materi eksoterm dan endoterm juga mengalami hal yang demikian.
Persoalan tadi masih mudah diluruskan. Namun, beberapa cara menyesatkan
guna mempermudah pemahaman siswa dirasa sangat miris dalam dunia pendidikan
seperti teori atom yakni atom memiliki elektron yang mengelilinya layaknya
planet mengelilingi matahari, padahal elektron tidak memiliki pola melingkar
yang sederhana untuk mengelilingi inti. Memang siswa akan diberitahu keadaan
atom sebenarnya pada tingkatan kelas yang lebih tinggi, namun adakah manfaat
menunda memahami kebenaran? Padahal, siswa harus mengikuti informasi
perkembangan ilmu pengetahuan secara terkini dan aktual.
Selanjutnya, konsep-konsep kimia yang “abstrak” dengan memanfaatkan kekasa
dan logika memang dapat menimbulkan miskonsepsi yang sangat nyata. Karena
abstrak lantas diabaikan? Tidak, jangan demikian. Memahami kimia yang bersifat
abstrak ibarat mempercayai bahwa Tuhan itu ada walau kita tidak dapat
melihat-Nya namun kita merasakan kehadirat-Nya.
Kimia sebagai mata pelajaran dengan karakteristik yang lebih banyak pada
dunia mikroskopis, berupa mempelajari atom-atom sebagai unit terkecil penyusun
materi sebenarnya memberikan sumbangan bermanfaat bagi kelangsungan hidup
manusia.
Kita sadari bahwa miskonsepsi kimia menyebabkan kesulitan siswa dalam
mempelajarinya, untuk itu perlu diterapkan beberapa cara guna mengatasinya.
Dengan memperkenalkan bagaimana kimia begitu berpengaruh dalam hidup siswa
setidaknya dapat menjadi bekal untuk memahami konsep dasar sebelum masuk ke
dalam kelas dengan mata pelajaran kimia. Melalui pendekatan itu juga diharapkan
siswa tidak menganggap kimia sebagai mata pelajaran yang disegani tapi sebagai
mata pelajaran yang dikagumi. Pendekatan atau interaksi antara siswa dengan
guru juga merupakan cara terbaik untuk meluruskan miskonsepsi siswa. Tanpa
interaksi guru tidak akan mengetahui miskonsepsi siswa.
Yang tidak kalah crusial mengenai miskonsepsi kimia adalah guru kimia
sebagai pelaku utama harus mengintropeksi pengetahuan kimianya, membandingkan
dengan beberapa sumber, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, guru harus
mempersiapkan sajian penjelasan sebelum masuk ke kelas agar mengurangi
miskonsepsi yang dialami siswa akibat pengalamannya yang minim akan ruang
lingkup kimia.
Posted by
Ida Puspita Sari Tambunan
sumber :
Mariawan, Made I.2002.Strategi Konflik Kognitif Sebagai Strategi Perubahab Konseptual Dalam Pembelajaran Konsep Usaha dan Energi di SUP Negeri 2 Singaraja. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran FKIP Negeri Singaraja. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI.
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/miskonsepsi-dalam-pembelajaran-dan-pemhaman-konsep.html