Kamis, 07 April 2016

TAHUKAH ANDA APA ITU MISKONSEPSI ?


        Sebelum siswa mempelajari suatu konsep, siswa sudah memiliki konsepsi terhadap konsep yang akan dipelajari. Konsepsi tersebut terus berkembang dari pengalaman belajar mereka sehari-hari dalam memahami gejala atau fenomena alam, maupun dari pengalaman belajar mereka pada jenjang pendidikan sebelumnya (Mariawan, 2002). 
    
    Fowler (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pengertian yang tidak akurat terhadap konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan konsep-konsep yang tidak benar(Suparno, 2005).

Adapun sumber-sumber Miskonsepsi yaitu : Suparno (2005) menjelaskan ada lima faktor yang merupakan penyebab miskonsepsi pada siswa, yaitu : 1) siswa, 2) guru, 3) buku teks, 4) konteks, dan 5) metode mengajar.

1) Siswa

    Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam 8 kategori, sebagai berikut :
  • Prakonsepsi atau konsep awal siswa yang mana pada mulanya siswa sudah mempunyai konsep awal sebelum mereka mengikuti pelajaran di sekolah. Prakonsepsi sering bersifat miskonsepsi karena penalaran seseorang terhadap suatu fenomena berbeda-beda. 
  • Pemikiran asosiatif yaitu jenis pemikiran yang mengasosiasikan atau menganggap suatu konsep selalu sama dengan konsep yang lain. Asosiasi siswa terhadap istilah yang ditemukan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari sering menimbulkan salah penafsiran. 
  • Pemikiran humanistik yaitu memandang semua benda dari pandangan manusiawi. Tingkah laku benda dipahami sebagai tingkah laku makhluk hidup, sehingga tidak cocok. 
  • Reasoning atau penalaran yang tidak lengkap atau salah. Alasan yang tidak lengkap diperoleh dari informasi yang tidak lengkap pula. Akibatnya siswa akan menarik kesimpulan yang salah dan menimbulkan miskonsepsi. 
  • Intuisi yang salah, yaitu suatu perasaan dalam diri seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu tanpa penelitian secara obyektif dan rasional. Pola pikir intuitif sering dikenal dengan pola pikir yang spontan. 
  • Tahap perkembangan kognitif siswa yang secara umum, siswa yang dalam proses perkembangan kognitif akan sulit memahami konsep yang abstrak. Dalam hal ini, siswa baru belajar pada hal-hal yang konkrit yang dapat dilihat dengan indera. 
  • Kemampuan siswa. Siswa yang kurang mampu dalam mempelajari kimia akan menemukan kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang diajarkan. Secara umum, siswa yang kurang mampu berpikir logisnya tinggi akan mengalami kesulitan memahami konsep kimia, terlebih konsep yang abstrak.
  • Minat belajar. Siswa yang memiliki minat belajar kimia yang besar akan sedikit mengalami miskonsepsi dibandingkan siswa yang tidak berminat.

2) Guru

    Guru yang tidak menguasai bahan atau tidak memahami konsep kimia dengan benar juga merupakan salah satu penyebab miskonsepsi siswa. Guru terkadang menyampaikan konsep kimia yang kompleks secara sederhana dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa. Kadang-kadang guru mengutamakan penyampaian rumusan matematis sedangkan penyampaian konsep fisisnya dikesampingkan. Pola pengajaran guru masih terpaku pada papan tulis, jarang melakukan eksperimen dan penyampaian masalah yang menantang proses berpikir siswa. Miskonsepsi siswa akan semakin kuat apabila guru bersikap otoriter dan menerapkan metode ceramah dalam mengajar. Hal ini mengakibatkan interaksi yang terjadi hanya satu arah, sehingga semakin besar peluang miskonsepsi guru ditransfer langsung pada siswa.

3) Buku Teks

    Buku teks yang dapat mengakibatkan munculnya miskonsepsi siswa adalah buku teks yang bahasanya sulit dimengerti dan penjelasannya tidak benar. Buku teks yang terlalu sulit bagi level siswa yang sedang belajar dapat menumbuhkan miskonsepsi karena mereka sulit menangkap isinya.

4) Konteks

     Konteks yang dimaksud di sini adalah pengalaman, bahasa sehari-hari, teman, serta keyakinan dan ajaran agama. Bahasa sebagai sumber prakonsepsi pertama sangat potensial mempengaruhi miskonsepsi, karena bahasa mengandung banyak penafsiran.

5) Metode Mengajar

   Metode mengajar guru yang tidak sesuai dengan konsep yang dipelajari akan dapat menimbulkan miskonsepsi. Guru yang hanya menggunakan satu metode pembelajaran untuk semua konsep akan memperbesar peluang siswa terjangkit miskonsepsi. Metode ceramah yang tidak memberikan kesempatan siswa untuk bertanya dan juga untuk mengungkapkan gagasannya sering kali meneruskan dan memupuk miskonsepsi. Penggunaan analogi yang tidak tepat juga merupakan salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi.

   Metode praktikum yang sangat membantu dalam proses pemahaman, juga dapat menimbulkan miskonsepsi karena siswa hanya dapat menangkap konsep dari data-data yang diperoleh selama praktikum. Metode diskusi juga dapat berperan dalam menciptakan miskonsepsi. Bila dalam diskusi semua siswa mengalami miskonsepsi, maka miskonsepsi mereka semakin diperkuat.

   Jadi miskonsepsi merupakan bagian dari pengetahuan yang dimiliki siswa dan bertentangan dengan pelajaran berikutnya, sedemikian sehingga informasi yang baru tidak bisa terintegrasi sewajarnya dan pemahaman siswa kurang serta miskonsepsi terhadap konsep baru tak bisa diabaikan. Pengetahuan siswa yang miskonsepsi mendorong guru untuk menemukan pertanyaan dan permasalahan yang bisa menciptakan ketidakpuasan ke dalam diri siswa terhadap pandangan yang mereka miliki. Dengan demikian akan memunculkan pengenalan gagasan ke arah situasi yang berlawanan. Ini mampu memodifikasi siswa ke arah pandangan yang baru, yang akhirnya menuju ke perubahan konseptual dan pemahaman konseptual.

       Miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak terelakkan bagian dari proses belajar. Miskonsepsi sering di bawa siswa dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Seperti yang terjadi di sekolah menengah, siswa miskonsepsi terkait konsep. Penyampaian informasi yang kurang jelas dan kurang lengkap yang diterima oleh siswa dalam proses belajar juga diduga sebagai penyebab terjadinya miskonsepsi. Bahkan pemilihan strategi pengajaran yang kurang tepat, misalnya penggunaan analogi yang kurang tepat, dapat juga mengganggu proses berpikir siswa dan mendapat kesulitan dalam memahami konsep-konsep kimia yang dipelajari.

Menurut Katu (dalam Asma & Masril, 2002), untuk mendeteksi miskonsepsi dapat dilakukan sebagai berikut.

a) Memberi tes diagnostik pada awal perkuliahan atau pada setiap akhir pembahasan. Bentuknya dapat berupa tes obyektif pilihan ganda atau bentuk lain seperti menggambarkan atau penjelasan dengan kata-kata.

b) Dengan memberikan tugas-tugas terstruktur misalnya tugas mandiri atau kelompok sebagai tugas akhir pengajaran atau tugas pekerjaan rumah.

c) Dengan memberikan pertanyaan terbuka, pertanyaan terbalik (reverse question) atau pertanyaan yang kaya konteks (context-rich problem).

d) Dengan mengoreksi langkah-langkah yang digunakan siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal esai.

e) Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara lisan kepada siswa atau mahasiswa.

f) Dengan mewawancarai misalnya dengan menggunakan kartu pertanyaan

sebagai contoh dari miskonsepsi dalam pembelajran kimia yaitu :

Di dalam ruang lingkup sekolah, kimia lebih dikenal dengan mata pelajaran yang mempelajari yang sulit dan susah. Dikarnakan didalam mempelajarinnya tentang  unsur-unsur dalam tabel sistem periodiknya. Unsur itu dipelajari dari karakteristik kimia dan fisiknya, keterkaitan satu unsur dengan lainnya, sampai pada matematisnya.Walaupun kimia sangat dekat dengan kehidupan, tapi miskonsepsi dalam memahami kimia sering kali terjadi. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan kita akan ruang lingkup kimia. Menurut Euwe Van den Berg miskonsepsi merupakan pertentangan atau ketidakcocokan konsep yang dipahami seseorang dengan konsep yang dipakai pakar ilmu yang bersangkutan. Miskonsepsi itu biasa dialami siswa bahkan guru.
Di dalam dunia pendidikan, kimia sudah dikelompokkan menjadi sub-sub bab agar materinya lebih mudah dipahami. Namun, hal ini tidak berjalan sesuai harapan sampai pemerintah memutuskan perubahan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menjadi kurikulum 2013 yang bersifat tematik integraif dimana kimia akan diintegrasikan ke bidang studi tertentu. Kurikulum dahulu dirasa membatasi kemampuan observasi dan menghambat daya nalar siswa, misalnya, siswa diajarkan materi hidrokarbon
Hidrokarbon mempelajari suatu senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan Hidrogen (H). Di dalamnya menyajikan reaksi bagaimana proses pembakaran senyawa hidrokarbon, persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
                      
     CH4 + 2 O2 2 H2O + CO2 + Energi ......... (1)
Jika pendidik hanya mengikuti pola kurikulum yang menuntut sesuai dengan tujuan sub materi yang diajarkan maka akan mengurangi tingkat efisiensi nalar seorang siswa. Padahal jika sekaligus dijelaskan bahwa ada materi redoks maupun stoikiometri di dalamnya, siswa menjadi individu yang lebih observatif. Di dalam persamaan (1), perubahan bilangan oksidasi atom C dari -4 menjadi +4 dan perubahan bilangan oksidasi atom O dari 0 menjadi -2 merupakan materi redoks dan jumlah energi yang dihasilkan merupakan stoikiometri.
Memang benar pendapat para ahli pendidikan yang memaparkan bahwa hal terpenting yang dibawa ke ruang kelas oleh setiap siswa sebelum memulai pelajaran adalah konsep-konsep yang telah mereka miliki dan kuasai sebelumnya. Miskonsepsi yang terjadi di dalam ruang lingkup kimia dapat terjadi akibat konsep dalam kimia bersifat abstrak atau tidak tampak bahkan buku yang menjadi sumber belajar atau literatur menyajikan pembahasan yang keliru. Tidak jarang ditemukan lembar kerja peserta didik yang lebih dikenal dengan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang memaparkan materi pergeseran kesetimbangan yang keliru. Sehingga persoalan seperti penambahan gas CS2 ke sistem kesetimbangan :
                              
       CS2 (g) + 4H2 (g) CH4 (g) + 2H2S (g)

pada tekanan dan suhu konstan mengalami pergeseran kesetimbangan ke reaktan ataukah produk?. Banyak siswa yang terbalik dalam memahaminya. Seharusnya mengalami pergeseran ke arah produk justru siswa memahaminya ke arah reaktan. Materi eksoterm dan endoterm juga mengalami hal yang demikian.
Persoalan tadi masih mudah diluruskan. Namun, beberapa cara menyesatkan guna mempermudah pemahaman siswa dirasa sangat miris dalam dunia pendidikan seperti teori atom yakni atom memiliki elektron yang mengelilinya layaknya planet mengelilingi matahari, padahal elektron tidak memiliki pola melingkar yang sederhana untuk mengelilingi inti. Memang siswa akan diberitahu keadaan atom sebenarnya pada tingkatan kelas yang lebih tinggi, namun adakah manfaat menunda memahami kebenaran? Padahal, siswa harus mengikuti informasi perkembangan ilmu pengetahuan secara terkini dan aktual.
Selanjutnya, konsep-konsep kimia yang “abstrak” dengan memanfaatkan kekasa dan logika memang dapat menimbulkan miskonsepsi yang sangat nyata. Karena abstrak lantas diabaikan? Tidak, jangan demikian. Memahami kimia yang bersifat abstrak ibarat mempercayai bahwa Tuhan itu ada walau kita tidak dapat melihat-Nya namun kita merasakan kehadirat-Nya.
Kimia sebagai mata pelajaran dengan karakteristik yang lebih banyak pada dunia mikroskopis, berupa mempelajari atom-atom sebagai unit terkecil penyusun materi sebenarnya memberikan sumbangan bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.
Kita sadari bahwa miskonsepsi kimia menyebabkan kesulitan siswa dalam mempelajarinya, untuk itu perlu diterapkan beberapa cara guna mengatasinya. Dengan memperkenalkan bagaimana kimia begitu berpengaruh dalam hidup siswa setidaknya dapat menjadi bekal untuk memahami konsep dasar sebelum masuk ke dalam kelas dengan mata pelajaran kimia. Melalui pendekatan itu juga diharapkan siswa tidak menganggap kimia sebagai mata pelajaran yang disegani tapi sebagai mata pelajaran yang dikagumi. Pendekatan atau interaksi antara siswa dengan guru juga merupakan cara terbaik untuk meluruskan miskonsepsi siswa. Tanpa interaksi guru tidak akan mengetahui miskonsepsi siswa.
Yang tidak kalah crusial mengenai miskonsepsi kimia adalah guru kimia sebagai pelaku utama harus mengintropeksi pengetahuan kimianya, membandingkan dengan beberapa sumber, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, guru harus mempersiapkan sajian penjelasan sebelum masuk ke kelas agar mengurangi miskonsepsi yang dialami siswa akibat pengalamannya yang minim akan ruang lingkup kimia.

Posted by  Ida Puspita Sari Tambunan

sumber :

Mariawan, Made I.2002.Strategi Konflik Kognitif Sebagai Strategi Perubahab Konseptual Dalam Pembelajaran Konsep Usaha dan Energi di SUP Negeri 2 Singaraja. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran FKIP  Negeri Singaraja. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI. 
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/miskonsepsi-dalam-pembelajaran-dan-pemhaman-konsep.html

3 komentar:

  1. menurut saya artikel yang sudah anda buat ini sangat menarik untuk dibicarakan apalagi jika masuk keranah pembelajaran kimia. seperti yang saudara tau kimia merupakan ilmu yang abstrak maka timbul miskonsepsi disini, ditambah guru mengajarkan dengan menggunakan metode ceramah. menurut anda bagaimana cara anda unruk mengatasi problem yang ada pada materi kimia, ?dan tolong sertakan contoh materi . terimakasih

    BalasHapus
  2. Dari penjelasan saudari Ida di atas kita mengetahui bahwa buku menjdai salah satu yg menyebabkan miskonsepsi,lalu bagaimana cara kita guru menyeleksi buku teks yang digunakan agar tidak menyebabkan miskonsepsi selain itu bukankah terkadang buku yg digunakan siswa telah ditentukan pihak sekolah,jika begitu bagaimana juga suatu sekolah dapat menyeleksi buku yang harus digunakan siswa ?

    BalasHapus
  3. Menurut pendapat saya,dari penjelasan diatas, tidak jarang ditemukan lembar kerja peserta didik yang lebih dikenal dengan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang memaparkan materi pergeseran kesetimbangan yang keliru.Yang menjadi pertanyaan mengapa pada LKPD itu dapat membuat materi jadi keliru dan bisa menyebabkan miskonsepsi ?

    BalasHapus